{"id":13064,"date":"2026-04-07T11:13:36","date_gmt":"2026-04-07T04:13:36","guid":{"rendered":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/?p=13064"},"modified":"2026-04-07T11:13:36","modified_gmt":"2026-04-07T04:13:36","slug":"pgri-dalam-menjawab-tuntutan-kreativitas-siswa-modern","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/?p=13064","title":{"rendered":"PGRI dalam Menjawab Tuntutan Kreativitas Siswa Modern"},"content":{"rendered":"<hr class=\"\" data-path-to-node=\"2\" \/>\n<h2 class=\"\" data-path-to-node=\"3\"><b data-path-to-node=\"3\" data-index-in-node=\"0\">PGRI dalam Menjawab Tuntutan Kreativitas Siswa Modern: Membangun Kelas sebagai Laboratorium Inovasi<\/b><\/h2>\n<p data-path-to-node=\"4\"><a href=\"https:\/\/pgrijambi.org\/\"><span class=\"\">Siswa generasi Z dan Alpha memiliki karakteristik unik:<\/span><span class=\"\"> mereka kritis,<\/span><span class=\"\"> mahir teknologi,<\/span><span class=\"\"> dan memiliki keinginan kuat untuk berekspresi.<\/span><span class=\"\"> Jika sekolah gagal memfasilitasi dorongan kreatif ini,<\/span><span class=\"\"> pendidikan akan terasa membosankan dan tidak relevan.<\/span> <b class=\"\" data-path-to-node=\"4\" data-index-in-node=\"244\">PGRI<\/b><span class=\"\"> menyadari bahwa kunci untuk menjawab tuntutan ini adalah dengan memerdekakan pola pikir guru agar berani memberikan ruang eksplorasi yang lebih luas bagi siswa.<\/span><\/a><\/p>\n<h3 class=\"\" data-path-to-node=\"5\"><b data-path-to-node=\"5\" data-index-in-node=\"0\">Mengapa Kreativitas Menjadi Tuntutan Utama?<\/b><\/h3>\n<p data-path-to-node=\"6\"><span class=\"\">Ada beberapa alasan mengapa kreativitas kini menempati urutan teratas dalam kebutuhan pendidikan:<\/span><\/p>\n<ul data-path-to-node=\"7\">\n<li>\n<p data-path-to-node=\"7,0,0\"><a href=\"https:\/\/pgrilampung.org\/\"><b class=\"\" data-path-to-node=\"7,0,0\" data-index-in-node=\"0\">Otomatisasi Pekerjaan:<\/b><span class=\"\"> Di masa depan,<\/span><span class=\"\"> pekerjaan rutin akan diambil alih oleh mesin.<\/span><span class=\"\"> Kreativitas adalah kemampuan manusiawi yang tidak bisa digantikan oleh algoritme.<\/span><\/a><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"7,1,0\"><a href=\"https:\/\/pgrimadiun.org\/\"><b class=\"\" data-path-to-node=\"7,1,0\" data-index-in-node=\"0\">Personalisasi Belajar:<\/b><span class=\"\"> Siswa ingin mengekspresikan pemahaman mereka melalui berbagai media,<\/span><span class=\"\"> baik itu video,<\/span><span class=\"\"> infografis,<\/span> <i class=\"\" data-path-to-node=\"7,1,0\" data-index-in-node=\"120\">coding<\/i><span class=\"\">,<\/span><span class=\"\"> maupun karya seni fisik.<\/span><\/a><\/p>\n<\/li>\n<li>\n<p data-path-to-node=\"7,2,0\"><b class=\"\" data-path-to-node=\"7,2,0\" data-index-in-node=\"0\">Kebutuhan Solusi Masalah Nyata:<\/b><span class=\"\"> Siswa modern lebih termotivasi jika pembelajaran mereka dapat menghasilkan solusi bagi masalah di lingkungan sekitar.<\/span><\/p>\n<\/li>\n<\/ul>\n<hr class=\"\" data-path-to-node=\"8\" \/>\n<h3 class=\"\" data-path-to-node=\"9\"><b data-path-to-node=\"9\" data-index-in-node=\"0\">Strategi PGRI: Memfasilitasi Guru Menjadi Mentor Kreatif<\/b><\/h3>\n<p data-path-to-node=\"10\"><span class=\"\">PGRI melakukan langkah-langkah konkret untuk memastikan guru mampu mengimbangi dan mengarahkan kreativitas siswa melalui tiga pilar aksi:<\/span><\/p>\n<h4 class=\"\" data-path-to-node=\"11\"><b data-path-to-node=\"11\" data-index-in-node=\"0\">1. Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek (<i data-path-to-node=\"11\" data-index-in-node=\"46\">Project-Based Learning<\/i>)<\/b><\/h4>\n<p data-path-to-node=\"12\"><a href=\"https:\/\/pgrijabar.org\/\"><span class=\"\">Melalui <\/span><i class=\"\" data-path-to-node=\"12\" data-index-in-node=\"8\">Smart Learning and Character Center<\/i><span class=\"\"> (SLCC),<\/span><span class=\"\"> PGRI melatih guru untuk merancang pembelajaran yang tidak berorientasi pada jawaban tunggal.<\/span><span class=\"\"> Guru didorong untuk memberikan tantangan besar kepada siswa dan membiarkan mereka mencari cara kreatif untuk menyelesaikannya.<\/span><span class=\"\"> Dalam model ini,<\/span><span class=\"\"> kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses inovasi.<\/span><\/a><\/p>\n<h4 class=\"\" data-path-to-node=\"13\"><b data-path-to-node=\"13\" data-index-in-node=\"0\">2. Pemanfaatan Teknologi sebagai Kanvas Kreativitas<\/b><\/h4>\n<p data-path-to-node=\"14\"><span class=\"\">PGRI mendorong guru untuk tidak hanya menggunakan teknologi untuk presentasi,<\/span><span class=\"\"> tetapi sebagai alat produksi bagi siswa.<\/span><span class=\"\"> Guru dilatih untuk membimbing siswa menggunakan platform digital guna menciptakan konten edukasi,<\/span><span class=\"\"> simulasi sains,<\/span><span class=\"\"> hingga kewirausahaan digital,<\/span><span class=\"\"> sehingga teknologi menjadi medium ekspresi,<\/span><span class=\"\"> bukan sekadar distraksi.<\/span><\/p>\n<h4 class=\"\" data-path-to-node=\"15\"><b data-path-to-node=\"15\" data-index-in-node=\"0\">3. Penghapusan Batas Kaku Antar-Disiplin Ilmu<\/b><\/h4>\n<p data-path-to-node=\"16\"><span class=\"\">Kreativitas sering kali muncul di persimpangan berbagai bidang.<\/span><span class=\"\"> PGRI mendorong guru untuk melakukan kolaborasi lintas mata pelajaran.<\/span><span class=\"\"> Misalnya,<\/span><span class=\"\"> menggabungkan pelajaran Bahasa Indonesia dengan Seni Budaya dan Teknologi Informasi dalam satu proyek pembuatan film pendek,<\/span><span class=\"\"> sehingga siswa dapat mengeksplorasi kreativitas mereka secara holistik.<\/span><\/p>\n<hr class=\"\" data-path-to-node=\"17\" \/>\n<h3 class=\"\" data-path-to-node=\"18\"><b data-path-to-node=\"18\" data-index-in-node=\"0\">Menumbuhkan Kepercayaan Diri untuk Berinovasi<\/b><\/h3>\n<p data-path-to-node=\"19\"><span class=\"\">[Ilustrasi:<\/span><span class=\"\"> Guru sebagai Kurator Bakat \u2014 Menemukan dan Mengasah Potensi Unik Setiap Siswa]<\/span><\/p>\n<p data-path-to-node=\"20\"><span class=\"\">Tugas guru di era modern adalah meyakinkan setiap siswa bahwa mereka memiliki potensi kreatif.<\/span><span class=\"\"> PGRI memastikan bahwa guru memiliki kesabaran dan kecerdasan emosional untuk mendampingi proses kreatif siswa yang terkadang tidak linear dan penuh kejutan.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"\" data-path-to-node=\"21\">\n<p data-path-to-node=\"21,0\"><b data-path-to-node=\"21,0\" data-index-in-node=\"0\">&#8220;Kreativitas siswa hanya akan mekar di tangan guru yang juga tidak takut untuk berinovasi. Bersama PGRI, kita ubah sekolah dari tempat mencari nilai menjadi tempat mencari solusi.&#8221;<\/b><\/p>\n<\/blockquote>\n<div style=\"position: fixed; top: 10px; right: 10px;\">\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>PGRI dalam Menjawab Tuntutan Kreativitas Siswa Modern: Membangun Kelas sebagai Laboratorium Inovasi Siswa generasi Z dan Alpha memiliki karakteristik unik: mereka kritis, mahir teknologi, dan memiliki keinginan kuat untuk berekspresi. Jika sekolah gagal memfasilitasi dorongan kreatif ini, pendidikan akan terasa membosankan dan tidak relevan. PGRI menyadari bahwa kunci untuk menjawab tuntutan ini adalah dengan memerdekakan pola pikir guru agar berani memberikan ruang eksplorasi yang lebih luas bagi siswa. Mengapa Kreativitas Menjadi Tuntutan Utama? Ada beberapa alasan mengapa kreativitas kini menempati urutan teratas dalam kebutuhan pendidikan: Otomatisasi Pekerjaan: Di masa depan, pekerjaan rutin akan diambil alih oleh mesin. Kreativitas adalah kemampuan manusiawi yang tidak bisa digantikan oleh algoritme. Personalisasi Belajar: Siswa ingin mengekspresikan pemahaman mereka melalui berbagai media, baik itu video, infografis, coding, maupun karya seni fisik. Kebutuhan Solusi Masalah Nyata: Siswa modern lebih termotivasi jika pembelajaran mereka dapat menghasilkan solusi bagi masalah di lingkungan sekitar. Strategi PGRI: Memfasilitasi Guru Menjadi Mentor Kreatif PGRI melakukan langkah-langkah konkret untuk memastikan guru mampu mengimbangi dan mengarahkan kreativitas siswa melalui tiga pilar aksi: 1. Implementasi Pembelajaran Berbasis Proyek (Project-Based Learning) Melalui Smart Learning and Character Center (SLCC), PGRI melatih guru untuk merancang pembelajaran yang tidak berorientasi pada jawaban tunggal. Guru didorong untuk memberikan tantangan besar kepada siswa dan membiarkan mereka mencari cara kreatif untuk menyelesaikannya. Dalam model ini, kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses inovasi. 2. Pemanfaatan Teknologi sebagai Kanvas Kreativitas PGRI mendorong guru untuk tidak hanya menggunakan teknologi untuk presentasi, tetapi sebagai alat produksi bagi siswa. Guru dilatih untuk membimbing siswa menggunakan platform digital guna menciptakan konten edukasi, simulasi sains, hingga kewirausahaan digital, sehingga teknologi menjadi medium ekspresi, bukan sekadar distraksi. 3. Penghapusan Batas Kaku Antar-Disiplin Ilmu Kreativitas sering kali muncul di persimpangan berbagai bidang. PGRI mendorong guru untuk melakukan kolaborasi lintas mata pelajaran. Misalnya, menggabungkan pelajaran Bahasa Indonesia dengan Seni Budaya dan Teknologi Informasi dalam satu proyek pembuatan film pendek, sehingga siswa dapat mengeksplorasi kreativitas mereka secara holistik. Menumbuhkan Kepercayaan Diri untuk Berinovasi [Ilustrasi: Guru sebagai Kurator Bakat \u2014 Menemukan dan Mengasah Potensi Unik Setiap Siswa] Tugas guru di era modern adalah meyakinkan setiap siswa bahwa mereka memiliki potensi kreatif. PGRI memastikan bahwa guru memiliki kesabaran dan kecerdasan emosional untuk mendampingi proses kreatif siswa yang terkadang tidak linear dan penuh kejutan. &#8220;Kreativitas siswa hanya akan mekar di tangan guru yang juga tidak takut untuk berinovasi. Bersama PGRI, kita ubah sekolah dari tempat mencari nilai menjadi tempat mencari solusi.&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":10,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[],"class_list":["post-13064","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-umum","post-no-thumbnail"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13064","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/10"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=13064"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13064\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":13065,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/13064\/revisions\/13065"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=13064"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=13064"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=13064"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}