{"id":3287,"date":"2022-03-11T03:40:59","date_gmt":"2022-03-10T20:40:59","guid":{"rendered":"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/webnew\/?p=3287"},"modified":"2022-07-04T14:36:38","modified_gmt":"2022-07-04T07:36:38","slug":"pameran-para-sekutu-yang-tidak-bisa-berkata-tidak-hadir-dengan-kacamata-berbeda","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/?p=3287","title":{"rendered":"Pameran &#8220;Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak&#8221; Hadir Dengan Kacamata Berbeda"},"content":{"rendered":"\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-4.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3288\" width=\"669\" height=\"446\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-4.png 791w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-4-300x200.png 300w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-4-768x513.png 768w\" sizes=\"(max-width: 669px) 100vw, 669px\" \/><figcaption>Gedung A Galeri Nasional Indonesia. (foto: whiteboardjournal.com)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p>Jakarta, (Itjen Kemdikbudristek) &#8211; Panggilan kepada penikmat seni! Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesien mengadakan pameran &#8220;Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak.&#8221; Pameran ini menampilkan koleksi-koleksi terpilih dari berbagai institusi seni di Indonesia, Berlin, Thailand, dan Singapura. Pameran ini dikuratori oleh Grace Samboh dengan Anna-Catharina Gebbers, Gridthiya Gaweewong, dan June Yap sebagai tim kurator untuk proyek jangka panjang <em>Collecting Entanglements and Embodied Histories<\/em>. Melansir laman resmi Goethe-Institut Indonesien, judul pameran &#8220;Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak&#8221; terinspirasi dari salah satu karya yang dipamerkan oleh seniman S. Teddy D, yakni Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak (1997). Dia menyamakan manusia yang pada zaman itu tidak memiliki kebebasan berpendapat dan karenanya harus selalu mengatakan &#8220;ya&#8221;, seperti suara ayam yang sama saat berkokok. Karya tersebut telah diproduksi ulang untuk dipajang di pameran.<\/p>\n\n\n\n<div class=\"wp-block-image\"><figure class=\"aligncenter size-full is-resized\"><img decoding=\"async\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-5.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3289\" width=\"639\" height=\"426\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-5.png 738w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-5-300x200.png 300w\" sizes=\"(max-width: 639px) 100vw, 639px\" \/><figcaption>S. Teddy D, Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak (1997) (Itjen Kemdikbud\/Nabila Oudri)<\/figcaption><\/figure><\/div>\n\n\n\n<p><em>Para Sekutu <\/em>terbagi menjadi lima babak yang mengalir dari hulu ke hilir, yaitu <em>Guyub, Keberpihakan, Kenduri, Kekerabatan, <\/em>dan<em> Daya<\/em>. Setiap babak mengelompokkan karya berdasarkan kesamaan gagasan, tema, atau latar belakang kuratorialnya. Berikut beberapa potret karya seni dalam pameran &#8220;Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak.&#8221;<\/p>\n\n\n\n<p>1. Ahmad Sadali, Gunungan Emas (1980).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img decoding=\"async\" width=\"403\" height=\"457\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-6.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3290\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-6.png 403w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-6-265x300.png 265w\" sizes=\"(max-width: 403px) 100vw, 403px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>2. Lukisan cat minyak \u2018Untitled II\u2019 (1994) milik Semsar Siahaan, yang menampilkan sebuah potret Marsinah dalam kepungan daging-daging yang digantung di jeruji besi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"324\" height=\"493\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-7.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3292\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-7.png 324w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-7-197x300.png 197w\" sizes=\"(max-width: 324px) 100vw, 324px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>3.\u00a0 Instalasi dan performans \u2018Membangun Rumah\u2019 oleh Marintan Sirait, sebuah karya yang \u201ctak pernah selesai\u201d karena selalu mengalami pembaruan presentasi dan pertunjukan sejak 1994.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-8.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3293\" width=\"509\" height=\"382\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-8.png 555w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-8-300x225.png 300w\" sizes=\"(max-width: 509px) 100vw, 509px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>4.\u00a0 Instalasi video \u2018Unsubtitled\u2019 (2010 \u2013 2013) oleh Nguyen Trinh Thi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-9.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3294\" width=\"449\" height=\"507\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-9.png 514w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-9-266x300.png 266w\" sizes=\"(max-width: 449px) 100vw, 449px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>5. Teater 5 Agustus (Tisna Sanjaya &#8211; 1994)<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-10.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-3295\" width=\"459\" height=\"400\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-10.png 503w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/image-10-300x261.png 300w\" sizes=\"(max-width: 459px) 100vw, 459px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Setiap bagian dan objek dapat memberikan getaran dan umpan balik satu sama lain, seolah-olah mereka juga terlibat dalam menemukan dan memulai dialog dengan rekan-rekan mereka. Meski sebelumnya telah tampil di berbagai acara lain, dalam pameran kali ini mereka disuguhkan dengan kerangka, aransemen, dan isu baru.<\/p>\n\n\n\n<p>Beberapa karya memiliki makna yang jelas dan ada juga yang halus. Namun, semuanya adalah suara yang sama, dan tidak ada yang tampak tidak pada tempatnya. Goresan di tiap lukisan, warna-warnanya, sapuan-sapuan kuasnya, menyiarkan semangat, daya, dan cita rasa yang tidak dimiliki oleh seniman lain. Pameran ini menjadi wadah dari karya-karya yang ditampilkan dengan balutan narasi dan menyoroti hubungan interpersonal antar para seniman.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, (Itjen Kemdikbudristek) &#8211; Panggilan kepada penikmat seni! Galeri Nasional Indonesia bekerja sama dengan Goethe-Institut Indonesien mengadakan pameran &#8220;Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak.&#8221; Pameran ini menampilkan koleksi-koleksi terpilih dari berbagai institusi seni di Indonesia, Berlin, Thailand, dan Singapura. Pameran ini dikuratori oleh Grace Samboh dengan Anna-Catharina Gebbers, Gridthiya Gaweewong, dan June Yap sebagai tim kurator untuk proyek jangka panjang Collecting Entanglements and Embodied Histories. Melansir laman resmi Goethe-Institut Indonesien, judul pameran &#8220;Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak&#8221; terinspirasi dari salah satu karya yang dipamerkan oleh seniman S. Teddy D, yakni Paduan Suara yang Tidak Bisa Berkata Tidak (1997). Dia menyamakan manusia yang pada zaman itu tidak memiliki kebebasan berpendapat dan karenanya harus selalu mengatakan &#8220;ya&#8221;, seperti suara ayam yang sama saat berkokok. Karya tersebut telah diproduksi ulang untuk dipajang di pameran. Para Sekutu terbagi menjadi lima babak yang mengalir dari hulu ke hilir, yaitu Guyub, Keberpihakan, Kenduri, Kekerabatan, dan Daya. Setiap babak mengelompokkan karya berdasarkan kesamaan gagasan, tema, atau latar belakang kuratorialnya. Berikut beberapa potret karya seni dalam pameran &#8220;Para Sekutu yang Tidak Bisa Berkata Tidak.&#8221; 1. Ahmad Sadali, Gunungan Emas (1980). 2. Lukisan cat minyak \u2018Untitled II\u2019 (1994) milik Semsar Siahaan, yang menampilkan sebuah potret Marsinah dalam kepungan daging-daging yang digantung di jeruji besi. 3.\u00a0 Instalasi dan performans \u2018Membangun Rumah\u2019 oleh Marintan Sirait, sebuah karya yang \u201ctak pernah selesai\u201d karena selalu mengalami pembaruan presentasi dan pertunjukan sejak 1994. 4.\u00a0 Instalasi video \u2018Unsubtitled\u2019 (2010 \u2013 2013) oleh Nguyen Trinh Thi. 5. Teater 5 Agustus (Tisna Sanjaya &#8211; 1994) Setiap bagian dan objek dapat memberikan getaran dan umpan balik satu sama lain, seolah-olah mereka juga terlibat dalam menemukan dan memulai dialog dengan rekan-rekan mereka. Meski sebelumnya telah tampil di berbagai acara lain, dalam pameran kali ini mereka disuguhkan dengan kerangka, aransemen, dan isu baru. Beberapa karya memiliki makna yang jelas dan ada juga yang halus. Namun, semuanya adalah suara yang sama, dan tidak ada yang tampak tidak pada tempatnya. Goresan di tiap lukisan, warna-warnanya, sapuan-sapuan kuasnya, menyiarkan semangat, daya, dan cita rasa yang tidak dimiliki oleh seniman lain. Pameran ini menjadi wadah dari karya-karya yang ditampilkan dengan balutan narasi dan menyoroti hubungan interpersonal antar para seniman.<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":3288,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":true,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[276,277,378,389,541,653,703,909],"class_list":["post-3287","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-umum","tag-budaya-indonesia","tag-budaya-saya","tag-galeri-nasional-indonesia","tag-goethe-institut-indonesien","tag-kemdikbudristek","tag-memaknai-sejarah","tag-pameran","tag-seni"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3287","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=3287"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/3287\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/3288"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=3287"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=3287"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=3287"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}