{"id":4178,"date":"2022-06-04T06:40:29","date_gmt":"2022-06-04T06:40:29","guid":{"rendered":"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/?p=4178"},"modified":"2022-06-30T06:42:09","modified_gmt":"2022-06-30T06:42:09","slug":"kabar-baik-kini-lulusan-smk-bisa-tempuh-pendidikan-sarjana-di-jerman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/?p=4178","title":{"rendered":"Kabar Baik! Kini Lulusan SMK Bisa Tempuh Pendidikan Sarjana di Jerman"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: left;\"><!-- \/wp:post-content --><!-- wp:image {\"align\":\"center\",\"id\":3560,\"width\":641,\"height\":361,\"sizeSlug\":\"large\",\"linkDestination\":\"none\"} --><\/p>\r\n\r\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: left;\">\r\n<figure class=\"aligncenter size-large is-resized\">\r\n\r\n<figure id=\"attachment_3880\" aria-describedby=\"caption-attachment-3880\" style=\"width: 408px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-3880 \" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/66Irdbm7E_.jpg\" alt=\"\" width=\"408\" height=\"259\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-3880\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi SMK Bisa. (Desain: Ditjen Vokasi Kemendikbudristek).<\/figcaption><\/figure><\/figure>\r\n<\/div>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Jakarta, (Itjen Kemendikbudristek) \u2013 Mulai tahun 2022, peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) indonesia memiliki peluang melanjutkan pendidikan Jenjang sarjana (S-1) di berbagai macam universitas di Jerman. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Ardi Marwan<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\"><!-- \/wp:image --><!-- wp:image {\"align\":\"center\",\"id\":3560,\"width\":641,\"height\":361,\"sizeSlug\":\"large\",\"linkDestination\":\"none\"} --><\/p>\r\n\r\n<div class=\"wp-block-image\" style=\"text-align: justify;\"><\/div>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cKeputusan ini dikeluarkan Pemerintah Jerman dalam hal ini oleh The Standing Conference of the Ministers of Education and Cultural Affairs atau KMK yang disampaikan langsung kepada KBRI Berlin,\u201d tutur Ardi ketika dihubungi Minggu (12\/6).<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Bukti telah diakuinya ijazah SMK dari Indonesia juga dapat dilihat di situs resmi Anabin, yaitu anabin.kmk.org. Pada situs resmi tersebut, terdapat seluruh informasi terkait seluruh institusi dan jenjang pendidikan yang telah dievaluasi oleh <em>Central Office for Foreign Education<\/em> (<em>Zentralstelle f\u00fcr ausl\u00e4ndisches Bildungswesen<\/em>\/ ZAB\/ Kantor Pusat Pendidikan Asing) di Jerman.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cPara lulusan SMA\/MA dari Indonesia yang ingin studi S1 di Jerman disyaratkan untuk mendaftar dan mengikuti program <em>preparatory college<\/em> atau <em>studienkolleg (STK<\/em>) selama dua semester di berbagai institusi pendidikan negeri atau swasta di Jerman,\u201d tambah Ardi.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Syarat untuk mengikuti program STK sendiri yaitu ijazah SMA\/MA dan sertifikat kompetensi bahasa jerman minimal di level B2 . Menurut Ardi, ada juga institusi yang mempersyaratkan B1 dan C1 namun jumlahnya tidak banyak. \u201cJadi umumnya level Bahasa Jerman B2 sudah memadai,\u201d tutur Ardi.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Sedikit berbeda dengan SMA\/MA, calon mahasiswa yang akan mendaftar dengan ijazah SMK harus sudah menempuh studi di universitas di Indonesia selama satu tahun baru kemudian mendaftar program STK. Persyaratan ikut program STK tidak berlaku jika calon mahasiswa pemegang ijazah SMA dan SMK telah menempuh pendidikan program sarjana di Indonesia selama minimal empat semester atau dua tahun.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cDengan kata lain, mereka langsung dapat mendaftar pada program sarjana yang menjadi tujuan studinya di Jerman,\u201d ucap Ardi.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Dengan adanya keputusan tersebut, diperkirakan jumlah mahasiswa Indonesia yang akan melanjutkan studi di Jerman akan mengalami peningkatan yang pesat di masa depan, terlebih lagi saat ini Indonesia menghasilkan sekitar 1,5 juta lulusan SMK setiap tahunnya.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">Mahasiswa yang studi di Jerman juga mendapatkan kesempatan untuk kerja paruh waktu dan yang paling menarik adalah setelah menyelesaikan pendidikannya, mereka diberikan kesempatan untuk mencari kerja di Jerman.<\/p>\r\n<p style=\"text-align: justify;\">\u201cHarapannya, semakin banyak talenta muda Indonesia yang dapat menempuh pendidikan tinggi di Jerman dan kembali ke tanah air untuk membangun bangsa,\u201d tutup Atdikbud Ardi.<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta, (Itjen Kemendikbudristek) \u2013 Mulai tahun 2022, peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) indonesia memiliki peluang melanjutkan pendidikan Jenjang sarjana (S-1) di berbagai macam universitas di Jerman. Pernyataan tersebut dilontarkan oleh Atase Pendidikan dan Kebudayaan KBRI Berlin, Ardi Marwan \u201cKeputusan ini dikeluarkan Pemerintah Jerman dalam hal ini oleh The Standing Conference of the Ministers of Education and Cultural Affairs atau KMK yang disampaikan langsung kepada KBRI Berlin,\u201d tutur Ardi ketika dihubungi Minggu (12\/6). Bukti telah diakuinya ijazah SMK dari Indonesia juga dapat dilihat di situs resmi Anabin, yaitu anabin.kmk.org. Pada situs resmi tersebut, terdapat seluruh informasi terkait seluruh institusi dan jenjang pendidikan yang telah dievaluasi oleh Central Office for Foreign Education (Zentralstelle f\u00fcr ausl\u00e4ndisches Bildungswesen\/ ZAB\/ Kantor Pusat Pendidikan Asing) di Jerman. \u201cPara lulusan SMA\/MA dari Indonesia yang ingin studi S1 di Jerman disyaratkan untuk mendaftar dan mengikuti program preparatory college atau studienkolleg (STK) selama dua semester di berbagai institusi pendidikan negeri atau swasta di Jerman,\u201d tambah Ardi. Syarat untuk mengikuti program STK sendiri yaitu ijazah SMA\/MA dan sertifikat kompetensi bahasa jerman minimal di level B2 . Menurut Ardi, ada juga institusi yang mempersyaratkan B1 dan C1 namun jumlahnya tidak banyak. \u201cJadi umumnya level Bahasa Jerman B2 sudah memadai,\u201d tutur Ardi. Sedikit berbeda dengan SMA\/MA, calon mahasiswa yang akan mendaftar dengan ijazah SMK harus sudah menempuh studi di universitas di Indonesia selama satu tahun baru kemudian mendaftar program STK. Persyaratan ikut program STK tidak berlaku jika calon mahasiswa pemegang ijazah SMA dan SMK telah menempuh pendidikan program sarjana di Indonesia selama minimal empat semester atau dua tahun. \u201cDengan kata lain, mereka langsung dapat mendaftar pada program sarjana yang menjadi tujuan studinya di Jerman,\u201d ucap Ardi. Dengan adanya keputusan tersebut, diperkirakan jumlah mahasiswa Indonesia yang akan melanjutkan studi di Jerman akan mengalami peningkatan yang pesat di masa depan, terlebih lagi saat ini Indonesia menghasilkan sekitar 1,5 juta lulusan SMK setiap tahunnya. Mahasiswa yang studi di Jerman juga mendapatkan kesempatan untuk kerja paruh waktu dan yang paling menarik adalah setelah menyelesaikan pendidikannya, mereka diberikan kesempatan untuk mencari kerja di Jerman. \u201cHarapannya, semakin banyak talenta muda Indonesia yang dapat menempuh pendidikan tinggi di Jerman dan kembali ke tanah air untuk membangun bangsa,\u201d tutup Atdikbud Ardi.<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":4179,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[123],"tags":[],"class_list":["post-4178","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4178","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=4178"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/4178\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/4179"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=4178"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=4178"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=4178"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}