{"id":5255,"date":"2022-09-22T17:31:34","date_gmt":"2022-09-22T10:31:34","guid":{"rendered":"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/?p=5255"},"modified":"2022-09-22T17:31:34","modified_gmt":"2022-09-22T10:31:34","slug":"belajar-bersama-pakar-pendidikan-kontekstual-butet-manurung","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/?p=5255","title":{"rendered":"Belajar Bersama Pakar Pendidikan Kontekstual Butet Manurung"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_5256\" aria-describedby=\"caption-attachment-5256\" style=\"width: 560px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-5256\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Konterkstual-1024x1024.jpeg\" alt=\"\" width=\"560\" height=\"560\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5256\" class=\"wp-caption-text\">Live Instagram Belajar Bersama Pakar dengan tema Pendidikan Kontekstual dan narasumber Butet Manurung digelar oleh akun Instagram PSKP Kemendikbudristek, Rabu (22\/09). (Poster: PSKP Kemendikbudristek).<\/figcaption><\/figure>\n<p>(Jakarta, Itjen Kemendikbudristek) &#8211; Pendidikan adalah salah satu bentuk upaya untuk mencapai manusia yang bermartabat. Di dalamnya terdapat proses yang melibatkan peserta didik dan pengajar. Di negara kita Indonesia, sistem pendidikan diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh warganya menempuh jalur pendidikan.<\/p>\n<p>Begitu pula yang dilakukan oleh Butet Manurung dengan mendirikan Sokola Institute. Sokola Institute menjadi lembaga pertama di Indonesia yang memfokuskan diri pada pendidikan bagi masyarakat adat. Sokola berupaya hadir dalam komunitas adat yang dirugikan akibat buta huruf, terancam pranata sosial dan sumber daya alamnya oleh dunia luar, serta masyarakatnya masih menyayangi adatnya. Sepak terjangnya dibagikan kepada masyarakat dalam sesi <em>live <\/em>Instagram di acara Belajar Bersama Pakar Pendidikan Kontekstual, yang diselenggarkan oleh Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).<\/p>\n<p>Sesi <em>live <\/em>ini membahas banyak tentang pendidikan terutama pendidikan kontekstual. Narasumber dalam acara ini, Saur Marlina Manurung atau sering disebut Butet Manurung merupakan aktivis sosial\u00a0dan\u00a0antropolog Indonesia.\u00a0Dia juga merupakan perintis dan pelaku\u00a0pendidikan alternatif bagi\u00a0masyarakat di Indonesia.<\/p>\n<p>Perhatian Butet Manurung kepada pendidikan telah mendorong dia pergi ke hutan pedalaman untuk menyebarkan pendidikan kepada orang pedalaman. Hingga pada saat ini sudah berdiri lembaga Sokola Institute yang sudah memberikan pendidikan alternatif kepada 10.000 orang rimba di 15 daerah pedalaman yang tersebar di seluruh Indonesia.<\/p>\n<p>Pada kesempatan kali ini Butet Manurung membagikan pengalamannya tentang mengajar di pedalaman dan belajar tentang pendidikan kontekstual. Menurut dia, pembelajaran umum dengan pembelajaran untuk masyarakat adat itu sangat berbeda. \u201cPendidikan konstektual tidak hanya pada materi melainkan metodenya dengan mengikuti tabu pandang mereka, proses belajar mereka juga,\u201d ujar Butet.<\/p>\n<p>\u201cProses-proses belajar ala kelas itu tidak sama dengan proses belajar ala masyarakat adat. Masyarakat adat itu kan homogen ya, maksudnya semua berburu dan meramu, waktu-waktu luang mereka sama, jadi kadang mau mengajarkan satu <em>skill<\/em> itu bisa 2 sampai 3 minggu kapan lagi kalo pengen ngobrol, nah itu sulit, tiba-tiba dikompakkan ke dalam kelas. Jadi model belajarnya pun juga harus direvolusi bukan ala kelas,\u201d ucap Butet<\/p>\n<p>\u201cJadi <em>learning ways<\/em> nya bukan harus ngomong seperti guru yang tanya jawab sambil bercanda, karena karakter masyarakat adat apalagi berburu meramu model belajar nya itu 3 ya. Bermain, observasi, dan eksperimen, jadi <em>gak <\/em>bisa model di kelas yang <em>delivery<\/em>nya satu-satu aja,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p>Dari segi kurikulum, Sokola Rimba berbeda dengan kurikulum pendidikan pada umumnya. Pendidikan yang diberikan kepada orang rimba adalah pendidikan alternatif. Tak hanya sekadar baca tulis, kurikulum yang ada di Sokola Institute adalah kurikulum \u2018Hadap Masalah\u2019 yang dimana materi pelajaran juga berfokus pada nilai guna atau implementasi agar orang rimba bisa melakukan\u00a0<em>problem solving<\/em>\u00a0dan mengerti hak yang harus mereka pertahankan.<\/p>\n<p>Pendidikan menurut Butet penting, \u201cKarena pendidikan itu kunci, pendidikan yang kita ambil disini khusus untuk masyarakat adat yang dirugikan akibat buta huruf, seperti marjinalisasi, buta huruf, dan kerugian lain.\u201d<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>(Jakarta, Itjen Kemendikbudristek) &#8211; Pendidikan adalah salah satu bentuk upaya untuk mencapai manusia yang bermartabat. Di dalamnya terdapat proses yang melibatkan peserta didik dan pengajar. Di negara kita Indonesia, sistem pendidikan diatur dalam undang-undang yang mewajibkan seluruh warganya menempuh jalur pendidikan. Begitu pula yang dilakukan oleh Butet Manurung dengan mendirikan Sokola Institute. Sokola Institute menjadi lembaga pertama di Indonesia yang memfokuskan diri pada pendidikan bagi masyarakat adat. Sokola berupaya hadir dalam komunitas adat yang dirugikan akibat buta huruf, terancam pranata sosial dan sumber daya alamnya oleh dunia luar, serta masyarakatnya masih menyayangi adatnya. Sepak terjangnya dibagikan kepada masyarakat dalam sesi live Instagram di acara Belajar Bersama Pakar Pendidikan Kontekstual, yang diselenggarkan oleh Pusat Standar dan Kebijakan Pendidikan (PSKP) Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Sesi live ini membahas banyak tentang pendidikan terutama pendidikan kontekstual. Narasumber dalam acara ini, Saur Marlina Manurung atau sering disebut Butet Manurung merupakan aktivis sosial\u00a0dan\u00a0antropolog Indonesia.\u00a0Dia juga merupakan perintis dan pelaku\u00a0pendidikan alternatif bagi\u00a0masyarakat di Indonesia. Perhatian Butet Manurung kepada pendidikan telah mendorong dia pergi ke hutan pedalaman untuk menyebarkan pendidikan kepada orang pedalaman. Hingga pada saat ini sudah berdiri lembaga Sokola Institute yang sudah memberikan pendidikan alternatif kepada 10.000 orang rimba di 15 daerah pedalaman yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada kesempatan kali ini Butet Manurung membagikan pengalamannya tentang mengajar di pedalaman dan belajar tentang pendidikan kontekstual. Menurut dia, pembelajaran umum dengan pembelajaran untuk masyarakat adat itu sangat berbeda. \u201cPendidikan konstektual tidak hanya pada materi melainkan metodenya dengan mengikuti tabu pandang mereka, proses belajar mereka juga,\u201d ujar Butet. \u201cProses-proses belajar ala kelas itu tidak sama dengan proses belajar ala masyarakat adat. Masyarakat adat itu kan homogen ya, maksudnya semua berburu dan meramu, waktu-waktu luang mereka sama, jadi kadang mau mengajarkan satu skill itu bisa 2 sampai 3 minggu kapan lagi kalo pengen ngobrol, nah itu sulit, tiba-tiba dikompakkan ke dalam kelas. Jadi model belajarnya pun juga harus direvolusi bukan ala kelas,\u201d ucap Butet \u201cJadi learning ways nya bukan harus ngomong seperti guru yang tanya jawab sambil bercanda, karena karakter masyarakat adat apalagi berburu meramu model belajar nya itu 3 ya. Bermain, observasi, dan eksperimen, jadi gak bisa model di kelas yang deliverynya satu-satu aja,\u201d tambahnya. Dari segi kurikulum, Sokola Rimba berbeda dengan kurikulum pendidikan pada umumnya. Pendidikan yang diberikan kepada orang rimba adalah pendidikan alternatif. Tak hanya sekadar baca tulis, kurikulum yang ada di Sokola Institute adalah kurikulum \u2018Hadap Masalah\u2019 yang dimana materi pelajaran juga berfokus pada nilai guna atau implementasi agar orang rimba bisa melakukan\u00a0problem solving\u00a0dan mengerti hak yang harus mereka pertahankan. Pendidikan menurut Butet penting, \u201cKarena pendidikan itu kunci, pendidikan yang kita ambil disini khusus untuk masyarakat adat yang dirugikan akibat buta huruf, seperti marjinalisasi, buta huruf, dan kerugian lain.\u201d<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":5256,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[123],"tags":[1318,1316,546,666,1317,1319,1320,1315],"class_list":["post-5255","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-adat-istiadat","tag-butet-manurung","tag-kemendikbudristek","tag-merdeka-belajar","tag-orang-rimba","tag-pendidikan-kontekstual","tag-pskp","tag-sokola-institute"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5255","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5255"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5255\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5256"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5255"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5255"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5255"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}