{"id":5264,"date":"2022-09-26T16:03:59","date_gmt":"2022-09-26T09:03:59","guid":{"rendered":"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/?p=5264"},"modified":"2022-09-26T16:03:59","modified_gmt":"2022-09-26T09:03:59","slug":"revitaliasasi-jalur-rempah-libatkan-siswa-dan-mahasiswa-vokasi-kembalikan-kejayaan-kapal-bersejarah-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/?p=5264","title":{"rendered":"Revitaliasasi Jalur Rempah: Libatkan Siswa dan Mahasiswa Vokasi Kembalikan Kejayaan Kapal Bersejarah Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>Lamongan, (Itjen Kemendikbudristek) &#8211; Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (<a href=\"http:\/\/PPNS\">PPNS<\/a>) dan SMKN 3 Buduran mendapat kesempatan istimewa untuk membangun kapal bersejarah yang pernah membuat Indonesia jaya pada masanya. PPNS membangun Kapal Pencalang dan SMKN 3 Buduran membangun Kapal Ijon-Ijon. Kesempatan ini didapat dari program \u201cRevitalisasi Jalur Rempah\u201d, kerja sama antara Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek).<\/p>\n<figure id=\"attachment_5265\" aria-describedby=\"caption-attachment-5265\" style=\"width: 640px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-large wp-image-5265\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2022\/09\/Insisiasi-Revitalisasi-1024x684.jpeg\" alt=\"\" width=\"640\" height=\"428\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-5265\" class=\"wp-caption-text\">Dirjen Vokasi, Kiki Yuliati saat memberikan sambutan pada \u201cPeletakan Lunas (Keel Laying) Kapal Kayu Pencalang dan Ijon-ijon (PPNS dan SMKN 3 Buduran)\u201d di Workshop Teaching Boatyard PPNS, Lamongan, Jawa Timur (24\/9).<\/figcaption><\/figure>\n<p>Kapal Pencalang merupakan kapal dagang tradisional nusantara atau dalam sejarah disebut sebagai <em>pantchiallang<\/em> atau <em>pantjalang<\/em>. Sementara itu, Kapal Ijon-Ijon merupakan kapal ikan yang paling banyak digunakan oleh nelayan dengan kekhasan desain dan warna. Meski berbahan kayu, namun kapal tradisional tersebut nantinya akan dioperasikan secara modern dengan tetap mengedepankan warisan budaya bangsa sendiri.<\/p>\n<p>Dukungan penuh dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) diwujudkan melalui penyaluran bantuan operasional <em>Matching Fund<\/em> (MF) tahap kedua tahun 2022, dengan tema \u201cRevitalisasi Ekosistem Kapal Kayu Tradisional untuk Menunjang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Berkelanjutan\u201d, pembangunan kapal tradisional ini mendapatkan kucuran dana sekitar Rp2 miliar.<\/p>\n<p>Rasa bangga dan syukur atas pencapaian yang berhasil dicapai disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Kiki Yuliati. \u201cIni juga merupakan langkah awal kolaborasi yang melibatkan semua pihak untuk melestarikan kapal tradisional,\u201d ujarnya saat memberikan sambutan pada \u201cPeletakan Lunas (<em>Keel Laying<\/em>) Kapal Kayu Pencalang dan Ijon-ijon (PPNS dan SMKN 3 Buduran)\u201d di <em>Workshop<\/em> <em>Teaching Boatyard<\/em> PPNS, Lamongan, Jawa Timur (24\/9).<\/p>\n<p>Dirjen Kiki melanjutkan, pekerjaan membangun Kapal Pencalang dan Kapal Ijon-Ijon dengan pengetahuan adalah cara pengembangan ilmu. \u201cTerima kasih kepada semua pihak yang telah berkolaborasi membangun kapal-kapal tradisional ini, seiring pelestarian kebudayaan lokal,\u201d tuturnya.<\/p>\n<p>Kapal Pencalang dan Ijon-Ijon ini nantinya akan mengarungi pelayaran jalur rempah. Kapal ini memiliki panjang 11,02 meter, panjang garis air 11,16 meter, tinggi 1,5 meter, dan lebar 4 meter. Kecepatan yang dimiliki berkisar 10 knot dengan daya angkut berkapasitas 4 orang. Kapal Ijon-ijon memiliki panjang 12 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 1,5 meter.<\/p>\n<p>Kedua kapal ini direncanakan \u00a0hadir pada acara puncak pertemuan negara-negara perekonomian besar dunia, yakni KTT G20 di Bali pada November 2022 mendatang.<\/p>\n<p>Dalam program \u201cRevitalisasi Jalur Rempah\u201d kali ini para siswa SMK dan mahasiswa politeknik belajar bersama para tukang perahu secara kolaboratif yang berpengalaman untuk membangun kapal kayu sebagai artefak teknik yang mengandung nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Diharapkan, interaksi intensif antara siswa dan mahasiswa bersama para tukang perahu berhasil merevitalisasi ekosistem budaya Jalur Rempah yang akan berperan penting dalam melestarikan kehidupan masyarakat pesisir.<\/p>\n<p>Direktur PPNS, Eko, berharap, karya monumental ini nantinya bisa membuat bangsa Indonesia bangga dengan budayanya. Serta, \u201cMembuat anak-anak muda tertarik untuk ke laut, karena jati diri bangsa kita adalah pelaut,\u201d tuturnya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Lamongan, (Itjen Kemendikbudristek) &#8211; Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) dan SMKN 3 Buduran mendapat kesempatan istimewa untuk membangun kapal bersejarah yang pernah membuat Indonesia jaya pada masanya. PPNS membangun Kapal Pencalang dan SMKN 3 Buduran membangun Kapal Ijon-Ijon. Kesempatan ini didapat dari program \u201cRevitalisasi Jalur Rempah\u201d, kerja sama antara Direktorat Jenderal Kebudayaan dengan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek). Kapal Pencalang merupakan kapal dagang tradisional nusantara atau dalam sejarah disebut sebagai pantchiallang atau pantjalang. Sementara itu, Kapal Ijon-Ijon merupakan kapal ikan yang paling banyak digunakan oleh nelayan dengan kekhasan desain dan warna. Meski berbahan kayu, namun kapal tradisional tersebut nantinya akan dioperasikan secara modern dengan tetap mengedepankan warisan budaya bangsa sendiri. Dukungan penuh dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi (Ditjen Diksi) diwujudkan melalui penyaluran bantuan operasional Matching Fund (MF) tahap kedua tahun 2022, dengan tema \u201cRevitalisasi Ekosistem Kapal Kayu Tradisional untuk Menunjang Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Berkelanjutan\u201d, pembangunan kapal tradisional ini mendapatkan kucuran dana sekitar Rp2 miliar. Rasa bangga dan syukur atas pencapaian yang berhasil dicapai disampaikan oleh Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi (Dirjen Diksi), Kiki Yuliati. \u201cIni juga merupakan langkah awal kolaborasi yang melibatkan semua pihak untuk melestarikan kapal tradisional,\u201d ujarnya saat memberikan sambutan pada \u201cPeletakan Lunas (Keel Laying) Kapal Kayu Pencalang dan Ijon-ijon (PPNS dan SMKN 3 Buduran)\u201d di Workshop Teaching Boatyard PPNS, Lamongan, Jawa Timur (24\/9). Dirjen Kiki melanjutkan, pekerjaan membangun Kapal Pencalang dan Kapal Ijon-Ijon dengan pengetahuan adalah cara pengembangan ilmu. \u201cTerima kasih kepada semua pihak yang telah berkolaborasi membangun kapal-kapal tradisional ini, seiring pelestarian kebudayaan lokal,\u201d tuturnya. Kapal Pencalang dan Ijon-Ijon ini nantinya akan mengarungi pelayaran jalur rempah. Kapal ini memiliki panjang 11,02 meter, panjang garis air 11,16 meter, tinggi 1,5 meter, dan lebar 4 meter. Kecepatan yang dimiliki berkisar 10 knot dengan daya angkut berkapasitas 4 orang. Kapal Ijon-ijon memiliki panjang 12 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 1,5 meter. Kedua kapal ini direncanakan \u00a0hadir pada acara puncak pertemuan negara-negara perekonomian besar dunia, yakni KTT G20 di Bali pada November 2022 mendatang. Dalam program \u201cRevitalisasi Jalur Rempah\u201d kali ini para siswa SMK dan mahasiswa politeknik belajar bersama para tukang perahu secara kolaboratif yang berpengalaman untuk membangun kapal kayu sebagai artefak teknik yang mengandung nilai ekonomi dan budaya yang tinggi. Diharapkan, interaksi intensif antara siswa dan mahasiswa bersama para tukang perahu berhasil merevitalisasi ekosistem budaya Jalur Rempah yang akan berperan penting dalam melestarikan kehidupan masyarakat pesisir. Direktur PPNS, Eko, berharap, karya monumental ini nantinya bisa membuat bangsa Indonesia bangga dengan budayanya. Serta, \u201cMembuat anak-anak muda tertarik untuk ke laut, karena jati diri bangsa kita adalah pelaut,\u201d tuturnya.<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":5265,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[123],"tags":[330,332,1102,1326,1327,546,666,920],"class_list":["post-5264","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","tag-ditjen-kebudayaan","tag-ditjen-vokasi","tag-jalur-rempah","tag-kapal-ijon-ijon","tag-kapal-pencalang","tag-kemendikbudristek","tag-merdeka-belajar","tag-siaran-pers"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5264","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=5264"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/5264\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/5265"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=5264"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=5264"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=5264"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}