{"id":7725,"date":"2023-08-10T19:15:19","date_gmt":"2023-08-10T12:15:19","guid":{"rendered":"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/?p=7725"},"modified":"2023-08-10T19:15:19","modified_gmt":"2023-08-10T12:15:19","slug":"habib-jafar-dan-onad-berbagi-kisah-dalam-berisik-soal-kebinekaan-di-semarang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/?p=7725","title":{"rendered":"Habib Jafar dan Onad Berbagi Kisah dalam BERISIK soal Kebinekaan di Semarang"},"content":{"rendered":"<figure id=\"attachment_7728\" aria-describedby=\"caption-attachment-7728\" style=\"width: 450px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-7728\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/1smrg-692x1024.webp\" alt=\"\" width=\"450\" height=\"666\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/1smrg-692x1024.webp 692w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/1smrg-203x300.webp 203w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/1smrg-768x1137.webp 768w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/1smrg-1038x1536.webp 1038w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/1smrg-1384x2048.webp 1384w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/1smrg-scaled.webp 1730w\" sizes=\"(max-width: 450px) 100vw, 450px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-7728\" class=\"wp-caption-text\">Graphic record suasana acara BERISIK soal Kebinekaan di Semarang pada Jumat, 28 Juli 2023 (Pelukis: @agahtheagah)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Berbincang Asik (Berisik) soal Kebinekaan tahun 2023 telah hadir di kota kedua yaitu Semarang pada Jumat, 28 Juli 2023. Tak jauh berbeda dari Berisik soal Kebinekaan di kota Bandung, Berisik yang diisi oleh pembicara Habib Jafar, Onadio Leonardo, dan Chatarina Muliana ini dihadiri hampir 100 mahasiswa dari puluhan universitas di Jawa Tengah, Yogyakarta, bahkan Bandung.\u00a0<em>Board games<\/em>,\u00a0<em>photobooth, <\/em>cinderamata berupa sketsa wajah para peserta oleh @kakmozley, dan pembuatan <em>graphic record <\/em>secara <em>live <\/em>oleh @agahtheagah pun tetap ada.<\/p>\n<p>Pada Berisik soal Kebinekaan di Semarang, pertanyaan yang diajukan peserta dan cerita serta tanggapan para narasumber tentang kebinekaan keren-keren dan berkesan. Para peserta pun benar-benar tenggelam dalam diskusi dan perbincangan mereka dengan para narasumber. Wah, kira-kira seseru apa sih, perbincangan asik mereka? Yuk, disimak!<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kebandelan Habib Jafar dan Pentingnya Keluarga dalam Literasi Kebinekaan<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_7729\" aria-describedby=\"caption-attachment-7729\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-7729\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/2smrg-678x1024.webp\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"453\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/2smrg-678x1024.webp 678w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/2smrg-199x300.webp 199w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/2smrg-768x1159.webp 768w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/2smrg-1017x1536.webp 1017w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/2smrg-1357x2048.webp 1357w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/2smrg-scaled.webp 1696w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-7729\" class=\"wp-caption-text\">Graphic record Habib Jafar pada BERISIK soal Kebinekaan di Semarang, Jumat, 28 Juli 2023 (Pelukis: @agahtheagah)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Menurut Habib Jafar, kebinekaan bisa menjadi rahmat dan bila dikelola dengan baik dapat menjadi biang kekayaan melalui persatuan. Habib Jafar pun mencanangkan program <em>Log In<\/em> yang, walau merupakan acara Islam pada bulan ramadhan, menghadirkan bintang tamu dari berbagai agama agar dapat saling berbagi dan saling mengenal. Tapi, tahukah kalian bahwa Habib Jafar pernah menjadi anak yang \u201cbandel\u201d pada masa kecilnya?<\/p>\n<p>Waktu kecil, Habib Jafar lahir di komunitas Arab yang homogen. Ia pun sempat mengira bahwa orang yang tidak beragama Islam tidak mungkin baik, dan setiap agama harus bersaing dan saling menandingi satu sama lain. Karena itu, Habib Jafar melakukan beberapa kenakalan dengan target orang-orang nonmuslim dari berbagai ras. Pastur yang tetap bersikap baik pada Habib Jafar pun tidak ia percayai. \u201cMasa sih, pastur ada yang baik? Dia pasti pura-pura!\u201d<\/p>\n<p>Tidak lama setelah rangkaian kenakalannya, persepsi Habib Jafar berubah. Hal ini disebabkan oleh ayah Habib Jafar yang selalu mengajaknya mengunjungi gereja-gereja saat natal untuk memberikan hadiah natal dan berkumpul bersama orang-orang di sana. Sikap ayahnya membuat Habib Jafar belajar arti toleransi.<\/p>\n<p>Tidak hanya orang tua Habib Jafar, orang tua Onad pun mengajarkan hal yang sama pada anak mereka. \u201cSejak masa sekolah, ketika ada kejanggalan tentang agama yang <em>gue<\/em> tanyakan, <em>bokap gue<\/em> tidak pernah marah. Beliau selalu berusaha menjelaskan dengan logis dan tidak pernah mengatakan \u2018kita paling benar, mereka salah!\u2019. Dari situ, <em>gue<\/em> mulai mengerti bahwa kita hidup di Indonesia itu dengan keragaman; rasnya banyak, bahasanya banyak, kulitnya banyak, agamanya juga banyak,\u201d ujar Onad sebelum mengatakan, \u201cMenurut <em>gue<\/em>\u00b8 Bhinneka Tunggal Ika itu sudah \u2018maut\u2019 banget dan Pancasila sudah paling \u2018wow\u2019. Pada saat pembuatannya, <em>founding father<\/em> kita pasti keren banget sehingga akhirnya bisa mencetuskan Pancasila.\u201d<\/p>\n<p>Inspektur Jenderal Kemendikbudristek, Chatarina Muliana juga memiliki pengalaman kebinekaan yang berarti. Sebagai seorang Katolik yang besar sebagai minoritas di keluarga yang terdiri dari berbagai suku dan didominasi agama Islam dan Protestan, Bu Chatarina tetap menghormati anggota keluarganya terlepas apapun agama mereka. \u201cSaya terbiasa melihat bahwa agama seharusnya tidak memisahkan yang sudah bersatu dari DNA,\u201d ungkapnya.<\/p>\n<p>Dari berbagai pengalamannya, Bu Chatarina menyimpulkan pentingnya peran keluarga dalam menanamkan kebinekaan. \u201cSaya melihat kelompok-kelompok masyarakat yang bisa melihat perbedaan dibentuk dari keluarga, terutama dari keluarga yang terdiri dari banyak suku dan agama. Di satu sisi, keluarga yang tidak sekaya itu dalam (keragaman) garis keturunan dan keluarga besar mungkin memiliki orang tua seperti orang tua Habib Jafar dan Onad yang bisa mendidik mengenai hal tersebut.\u201d<\/p>\n<p>Habib Jafar pun sempat memberikan dorongan. \u201cKita harus punya independensi dan kedaulatan dalam belajar. Kalau keluarga biologis anda tidak bisa memfasilitasi hal tersebut (literasi tentang kebinekaan), carilah keluarga baru dalam hal ideologis agar Anda bisa belajar.\u201d Maksudnya, kelompok atau komunitas yang bisa diajak berdiskusi, misalnya pengajian bagi orang Islam.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Kiat-kiat Menjunjung Kebinekaan A La Habib Jafar, Onad, dan Chatarina<\/strong><\/p>\n<figure id=\"attachment_7730\" aria-describedby=\"caption-attachment-7730\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignright\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-7730\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/3smrg-693x1024.webp\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"444\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/3smrg-693x1024.webp 693w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/3smrg-203x300.webp 203w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/3smrg-768x1135.webp 768w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/3smrg-1039x1536.webp 1039w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/3smrg-1385x2048.webp 1385w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/3smrg-scaled.webp 1732w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-7730\" class=\"wp-caption-text\">Graphic record Onadio Leonardo pada BERISIK soal Kebinekaan di Semarang, Jumat, 28 Juli 2023 (Pelukis: @agahtheagah)<\/figcaption><\/figure>\n<ol>\n<li>Memviralkan kebinekaan di media sosial<\/li>\n<\/ol>\n<p>\u201cHasil penelitian yang dipopulerkan oleh Kemenag menunjukkan bahwa hanya 23% dari konten media sosial yang prokebinekaan,\u201d ujar Habib Jafar. Sebaliknya, konten media sosial antikebinekaan jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak. \u201cTugas kita adalah mengubah hal itu.\u201d<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li>Memperluas pergaulan, memperbanyak diskusi<\/li>\n<\/ol>\n<p>Selain karena literasi dari orang tua, Habib Jafar dan Onad juga menghormati perbedaan karena pergaulan mereka, lho. Ketika bersekolah di sekolah negeri yang tidak hanya dihadiri orang yang satu suku dengannya, Habib Jafar jadi berkenalan dengan banyak orang. Dari situ lah ia dapat menyimpulkan bahwa menurutnya, \u201cWah, ternyata nonmuslim juga baik, ya!\u201d<\/p>\n<p>Tak jauh berbeda, Onad pun menyatakan, \u201cDulu <em>gue<\/em> kira orang Islam kaku dan keras. Setelah berbincang dengan Habib dan membaca kutipan Nabi Muhammad, <em>gue<\/em> jadi tahu bahwa kutipan-kutipannya damai dan ketika <em>gue<\/em> baca ajaran-ajarannya, menurut <em>gue<\/em> isinya keren.\u201d<\/p>\n<p>Habib Jafar dan Onad pun makin memperkaya ilmu dan literasi mereka melalui program yang mereka buat bersama, di mana mereka duduk dan berbincang bersama romo, pastur, dan tokoh-tokoh agama lain.<\/p>\n<p>\u201cKuncinya adalah iman,\u201d ujar Onad.\u201d Kalau <em>lu<\/em> sudah punya iman, melihat keindahan Islam (atau agama lainnya) cukup dengan melihat indahnya. Ketika berinteraksi dengan orang beragama lain, <em>gue <\/em>ambil sisi positifnya, namun <em>gue<\/em> tetap berpegang pada iman<em> gue<\/em>.\u201d<\/p>\n<p>Habib Jafar mendukung kata-kata Onad. Ia berpesan bahwa ketika menghadapi teman yang intoleran, misalnya yang mengajak untuk berpindah agama, ajak mereka berdiskusi. \u201cAjak mereka agar mereka juga <em>aware <\/em>terhadap kebinekaan,\u201d jelas Habib Jafar.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li>Menerapkan kemerdekaan dalam belajar<\/li>\n<\/ol>\n<p>Habib Jafar sempat memuji kurikulum Merdeka Belajar karena sejalan dengan sistem belajar yang diterapkannya sejak Kecil. Katanya, \u201cGuru seharusnya menerapkan kurikulum berbasis Merdeka Belajar. Saya dibesarkan dengan tradisi \u2018merdeka belajar\u2019. Ayah saya tidak pernah menyuruh saya salat, tapi saya selalu salat sampai sekarang. Ayah saya tidak pernah melarang saya merokok, tapi saya tidak pernah merokok sampai sekarang karena hasil diskusi saya dengan ayah saya. Ayah saya mengajak saya diskusi dan membolehkan saya bertanya apapun. Kami berdiskusi secara merdeka sehingga saya berdaulat.\u201d<\/p>\n<p>Wah, tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan oleh ayah Onad, ya! Yuk, mulai kita terapkan pembelajaran seperti itu kepada murid, anak, adik, atau siapapun yang sedang kita berikan ilmu!<\/p>\n<figure id=\"attachment_7727\" aria-describedby=\"caption-attachment-7727\" style=\"width: 300px\" class=\"wp-caption alignleft\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\" wp-image-7727\" src=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/4smrg-711x1024.webp\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"433\" srcset=\"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/4smrg-711x1024.webp 711w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/4smrg-208x300.webp 208w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/4smrg-768x1106.webp 768w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/4smrg-1066x1536.webp 1066w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/4smrg-1422x2048.webp 1422w, https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/wp-content\/uploads\/2023\/08\/4smrg-scaled.webp 1777w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-7727\" class=\"wp-caption-text\">Graphic record Chatarina Muliana, Inspektur Jenderal Kemendikbudristek, pada BERISIK soal Kebinekaan di Semarang, Jumat, 28 Juli 2023 (Pelukis: @agahtheagah)<\/figcaption><\/figure>\n<ol start=\"4\">\n<li>Menjadi contoh yang baik<\/li>\n<\/ol>\n<p>Seperti orang tua Habib Jafar, Onad, dan Chatarina, kita harus menjadi contoh yang baik dalam menghargai kebinekaan. Selain itu, kita harus membiasakan untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik. \u201cSeorang guru jika ingin mengatakan apakah sesuatu boleh atau tidak bukan dengan ancaman, melainkan dengan <em>reasoning<\/em> mengapa sesuatu harus atau tidak harus dilakukan,\u201d pesan Chatarina, menyetujui sistem belajar yang diceritakan Habib Jafar.<\/p>\n<ol start=\"5\">\n<li>Membiasakan penyebutan agama<\/li>\n<\/ol>\n<p>\u201cSaya tidak setuju menyebut seseorang yang bukan Islam sebagai \u2018nonmuslim\u2019 kecuali memang saya belum mengetahui agamanya. Ketika saya sudah tahu agama seseorang, itulah agama yang akan saya sebut. Karena setiap agama berhak disebut. Itulah bentuk toleransi. Karena di Indonesia yang ada bukan hanya agama Islam dan non-Islam,\u201d ujar Habib Jafar.<\/p>\n<ol start=\"6\">\n<li>Menghilangkan logika menang-kalah<\/li>\n<\/ol>\n<p>\u201cAdakah agama yang menyatakan bahwa kalau kamu bisa menghabisi orang lain yang berbeda agama, berarti kamu hebat? Tidak ada. Tidak ada agama yang mengajarkan menang-kalah, yang ada hanyalah baik-buruk dan benar-salah,\u201d kata Habib Jafar. Habib Jafar lalu mengingatkan bahwa sering kali, orang yang merasa mayoritas cenderung menjadi besar egonya. Ia pun berpesan, \u201cCara menurunkan ego adalah dengan berkumpul dengan orang-orang yang berbeda agar Anda tahu bahwa perbedaan itu indah dan bahwa walaupun Anda mayoritas, ada banyak hal yang tidak Anda miliki dan bisa Anda pelajari dari orang-orang atau kelompok-kelompok yang berbeda itu.\u201d<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Pembahasan Berisik soal Kebinekaan di Semarang sangat berbobot, ya! Namun, buah pikiran yang diberikan dengan sepenuh hati oleh para pembicara disampaikan dengan humor sehingga diskusi yang terkesan serius banyak diselingi juga dengan tawa. Alhasil, semua yang hadir tenggelam dalam perbincangan sore itu. Benar kata Habib Jafar, \u201cKami menggunakan komedi yang bisa dipahami semua orang, karena tawa adalah sesuatu yang universal.\u201d<\/p>\n<p>Di awal dan di akhir acara, Habib Jafar dan Onad beberapa kali mengapresiasi acara Berisik karena mereka bisa berdiskusi dengan peserta, tidak hanya memberikan obrolan satu arah. Mahasiswa yang tertarik untuk mengajukan pertanyaan pun terbilang banyak, dan Habib Jafar, Onad, dan Bu Chatarina senang bisa menjawab berbagai pertanyaan dan keresahan yang dirasakan oleh para peserta.<\/p>\n<p>Nah untuk teman-teman yang beruntung, Berisik soal Kebinekaan di Kota Malang akan segera hadir pada Jumat, 11 Agustus 2023. Sedangkan untuk teman-teman yang ingin hadir pada acara Berisik soal Kebinekaan di Kota Yogyakarta, pendaftaran akan segera dibuka pada Senin, 14 Agustus 2023. Untuk info lebih lanjut, jangan lupa ikuti Instagram @itjen_kemdikbud, ya!<\/p>\n<p>Keseruan-keseruan lain dalam acara Berisik soal Kebinekaan dapat dilihat di Instagram @itjen_kemdikbud dan pada artikel-artikel <a href=\"https:\/\/itjen.kemdikbud.go.id\/web\/?s=Berisik\">di sini<\/a>.<\/p>\n<p>Sampai ketemu di acara Berisik selanjutnya!<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Berbincang Asik (Berisik) soal Kebinekaan tahun 2023 telah hadir di kota kedua yaitu Semarang pada Jumat, 28 Juli 2023. Tak jauh berbeda dari Berisik soal Kebinekaan di kota Bandung, Berisik yang diisi oleh pembicara Habib Jafar, Onadio Leonardo, dan Chatarina Muliana ini dihadiri hampir 100 mahasiswa dari puluhan universitas di Jawa Tengah, Yogyakarta, bahkan Bandung.\u00a0Board games,\u00a0photobooth, cinderamata berupa sketsa wajah para peserta oleh @kakmozley, dan pembuatan graphic record secara live oleh @agahtheagah pun tetap ada. Pada Berisik soal Kebinekaan di Semarang, pertanyaan yang diajukan peserta dan cerita serta tanggapan para narasumber tentang kebinekaan keren-keren dan berkesan. Para peserta pun benar-benar tenggelam dalam diskusi dan perbincangan mereka dengan para narasumber. Wah, kira-kira seseru apa sih, perbincangan asik mereka? Yuk, disimak! &nbsp; Kebandelan Habib Jafar dan Pentingnya Keluarga dalam Literasi Kebinekaan Menurut Habib Jafar, kebinekaan bisa menjadi rahmat dan bila dikelola dengan baik dapat menjadi biang kekayaan melalui persatuan. Habib Jafar pun mencanangkan program Log In yang, walau merupakan acara Islam pada bulan ramadhan, menghadirkan bintang tamu dari berbagai agama agar dapat saling berbagi dan saling mengenal. Tapi, tahukah kalian bahwa Habib Jafar pernah menjadi anak yang \u201cbandel\u201d pada masa kecilnya? Waktu kecil, Habib Jafar lahir di komunitas Arab yang homogen. Ia pun sempat mengira bahwa orang yang tidak beragama Islam tidak mungkin baik, dan setiap agama harus bersaing dan saling menandingi satu sama lain. Karena itu, Habib Jafar melakukan beberapa kenakalan dengan target orang-orang nonmuslim dari berbagai ras. Pastur yang tetap bersikap baik pada Habib Jafar pun tidak ia percayai. \u201cMasa sih, pastur ada yang baik? Dia pasti pura-pura!\u201d Tidak lama setelah rangkaian kenakalannya, persepsi Habib Jafar berubah. Hal ini disebabkan oleh ayah Habib Jafar yang selalu mengajaknya mengunjungi gereja-gereja saat natal untuk memberikan hadiah natal dan berkumpul bersama orang-orang di sana. Sikap ayahnya membuat Habib Jafar belajar arti toleransi. Tidak hanya orang tua Habib Jafar, orang tua Onad pun mengajarkan hal yang sama pada anak mereka. \u201cSejak masa sekolah, ketika ada kejanggalan tentang agama yang gue tanyakan, bokap gue tidak pernah marah. Beliau selalu berusaha menjelaskan dengan logis dan tidak pernah mengatakan \u2018kita paling benar, mereka salah!\u2019. Dari situ, gue mulai mengerti bahwa kita hidup di Indonesia itu dengan keragaman; rasnya banyak, bahasanya banyak, kulitnya banyak, agamanya juga banyak,\u201d ujar Onad sebelum mengatakan, \u201cMenurut gue\u00b8 Bhinneka Tunggal Ika itu sudah \u2018maut\u2019 banget dan Pancasila sudah paling \u2018wow\u2019. Pada saat pembuatannya, founding father kita pasti keren banget sehingga akhirnya bisa mencetuskan Pancasila.\u201d Inspektur Jenderal Kemendikbudristek, Chatarina Muliana juga memiliki pengalaman kebinekaan yang berarti. Sebagai seorang Katolik yang besar sebagai minoritas di keluarga yang terdiri dari berbagai suku dan didominasi agama Islam dan Protestan, Bu Chatarina tetap menghormati anggota keluarganya terlepas apapun agama mereka. \u201cSaya terbiasa melihat bahwa agama seharusnya tidak memisahkan yang sudah bersatu dari DNA,\u201d ungkapnya. Dari berbagai pengalamannya, Bu Chatarina menyimpulkan pentingnya peran keluarga dalam menanamkan kebinekaan. \u201cSaya melihat kelompok-kelompok masyarakat yang bisa melihat perbedaan dibentuk dari keluarga, terutama dari keluarga yang terdiri dari banyak suku dan agama. Di satu sisi, keluarga yang tidak sekaya itu dalam (keragaman) garis keturunan dan keluarga besar mungkin memiliki orang tua seperti orang tua Habib Jafar dan Onad yang bisa mendidik mengenai hal tersebut.\u201d Habib Jafar pun sempat memberikan dorongan. \u201cKita harus punya independensi dan kedaulatan dalam belajar. Kalau keluarga biologis anda tidak bisa memfasilitasi hal tersebut (literasi tentang kebinekaan), carilah keluarga baru dalam hal ideologis agar Anda bisa belajar.\u201d Maksudnya, kelompok atau komunitas yang bisa diajak berdiskusi, misalnya pengajian bagi orang Islam. &nbsp; Kiat-kiat Menjunjung Kebinekaan A La Habib Jafar, Onad, dan Chatarina Memviralkan kebinekaan di media sosial \u201cHasil penelitian yang dipopulerkan oleh Kemenag menunjukkan bahwa hanya 23% dari konten media sosial yang prokebinekaan,\u201d ujar Habib Jafar. Sebaliknya, konten media sosial antikebinekaan jumlahnya tiga kali lipat lebih banyak. \u201cTugas kita adalah mengubah hal itu.\u201d Memperluas pergaulan, memperbanyak diskusi Selain karena literasi dari orang tua, Habib Jafar dan Onad juga menghormati perbedaan karena pergaulan mereka, lho. Ketika bersekolah di sekolah negeri yang tidak hanya dihadiri orang yang satu suku dengannya, Habib Jafar jadi berkenalan dengan banyak orang. Dari situ lah ia dapat menyimpulkan bahwa menurutnya, \u201cWah, ternyata nonmuslim juga baik, ya!\u201d Tak jauh berbeda, Onad pun menyatakan, \u201cDulu gue kira orang Islam kaku dan keras. Setelah berbincang dengan Habib dan membaca kutipan Nabi Muhammad, gue jadi tahu bahwa kutipan-kutipannya damai dan ketika gue baca ajaran-ajarannya, menurut gue isinya keren.\u201d Habib Jafar dan Onad pun makin memperkaya ilmu dan literasi mereka melalui program yang mereka buat bersama, di mana mereka duduk dan berbincang bersama romo, pastur, dan tokoh-tokoh agama lain. \u201cKuncinya adalah iman,\u201d ujar Onad.\u201d Kalau lu sudah punya iman, melihat keindahan Islam (atau agama lainnya) cukup dengan melihat indahnya. Ketika berinteraksi dengan orang beragama lain, gue ambil sisi positifnya, namun gue tetap berpegang pada iman gue.\u201d Habib Jafar mendukung kata-kata Onad. Ia berpesan bahwa ketika menghadapi teman yang intoleran, misalnya yang mengajak untuk berpindah agama, ajak mereka berdiskusi. \u201cAjak mereka agar mereka juga aware terhadap kebinekaan,\u201d jelas Habib Jafar. Menerapkan kemerdekaan dalam belajar Habib Jafar sempat memuji kurikulum Merdeka Belajar karena sejalan dengan sistem belajar yang diterapkannya sejak Kecil. Katanya, \u201cGuru seharusnya menerapkan kurikulum berbasis Merdeka Belajar. Saya dibesarkan dengan tradisi \u2018merdeka belajar\u2019. Ayah saya tidak pernah menyuruh saya salat, tapi saya selalu salat sampai sekarang. Ayah saya tidak pernah melarang saya merokok, tapi saya tidak pernah merokok sampai sekarang karena hasil diskusi saya dengan ayah saya. Ayah saya mengajak saya diskusi dan membolehkan saya bertanya apapun. Kami berdiskusi secara merdeka sehingga saya berdaulat.\u201d Wah, tidak jauh berbeda dengan yang diterapkan oleh ayah Onad, ya! Yuk, mulai kita terapkan pembelajaran seperti itu kepada murid, anak, adik, atau siapapun yang sedang kita berikan ilmu! Menjadi contoh yang baik Seperti orang tua Habib Jafar, Onad, dan Chatarina, kita harus menjadi contoh yang baik dalam menghargai kebinekaan. Selain itu, kita harus membiasakan untuk menyampaikan sesuatu dengan cara yang baik. \u201cSeorang guru jika ingin mengatakan apakah sesuatu boleh atau tidak bukan dengan ancaman, melainkan dengan reasoning mengapa sesuatu harus atau tidak harus dilakukan,\u201d pesan Chatarina, menyetujui sistem belajar yang diceritakan Habib Jafar. Membiasakan penyebutan agama \u201cSaya [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":7,"featured_media":7728,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[121],"tags":[1454,2766,2825,2826,2884,291,2828,2832,481,484,2754,2768,2830],"class_list":["post-7725","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-berisik","tag-berisik-2023","tag-berisik-semarang","tag-berisik-semarang-2023","tag-berisik-soal-kebinekaan","tag-cerdas-berintegritas","tag-habib-jafar","tag-irjen","tag-itjen","tag-itjen-kemendikbudristek","tag-keberagaman","tag-kebinekaan","tag-onad"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7725","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/users\/7"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcomments&post=7725"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7725\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":7732,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/posts\/7725\/revisions\/7732"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=\/wp\/v2\/media\/7728"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fmedia&parent=7725"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Fcategories&post=7725"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/itjen.kemendikdasmen.go.id\/web\/index.php?rest_route=%2Fwp%2Fv2%2Ftags&post=7725"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}