Berita

Irjen Kemendikdasmen Faisal Syahrul Pastikan MPLS Ramah Bebas Kekerasan di SMK Negeri 3 Semarang

Irjen Kemendikdasmen Faisal Syahrul Pastikan MPLS Ramah Bebas Kekerasan di SMK Negeri 3 Semarang

SEMARANG – Inspektur Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Faisal Syahrul, memastikan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Satuan Pendidikan (MPLS) Ramah di SMK Negeri 3 Semarang berjalan sesuai standar dan bebas dari praktik kekerasan, Kamis (17/7).

Dalam kunjungan pemantauan langsung, Faisal menegaskan bahwa MPLS harus menjadi momen pembekalan bermakna bagi siswa, bukan sekadar pengenalan formal. “Siswa harus dikenalkan dengan guru, sarana prasarana, program sekolah, dan kurikulum yang akan mereka ikuti dengan cara yang ramah dan menyenangkan,” ujar Faisal.

Irjen Kemendikdasmen ini menjelaskan bahwa pengawasan MPLS dilakukan secara serentak di berbagai wilayah Indonesia. “Kami semua turun ke lapangan, termasuk Pak Menteri yang ke Sumbawa. Sejauh ini, dari hasil pemantauan, belum ditemukan pelanggaran,” tambahnya.

Faisal juga menggarisbawahi bahwa MPLS bukan hanya tentang pengenalan lingkungan, tetapi juga tentang mempersiapkan mental siswa dalam masa transisi dari SMP ke SMK. “Kita terus mendorong agar pelaksanaan MPLS dapat memberikan pembekalan yang bermakna, sehingga siswa merasa diterima di lingkungan baru mereka,” katanya.

Sebagai bentuk komitmen transparansi, Kemendikdasmen membuka kanal pelaporan melalui Unit Layanan Terpadu (ULT) untuk menampung laporan masyarakat. “Kalau dari teman-teman media melihat atau mendapatkan informasi di luar pantauan kami, mohon disampaikan agar bisa segera kami tindaklanjuti,” tegas Faisal.

Kepala Sekolah: Transparansi dan Kolaborasi Kunci Sukses MPLS

Kepala SMK Negeri 3 Semarang, Harti, menjelaskan bahwa sekolahnya menerapkan prinsip transparansi total dalam pelaksanaan MPLS. “Kami berpegang pada Surat Edaran Mendikdasmen Nomor 10 Tahun 2025. Setiap kegiatan MPLS Ramah dipublikasikan melalui media sosial kelas hingga sekolah, agar orang tua dan masyarakat dapat memantau langsung,” ujar Harti.

Menurutnya, prinsip transparansi dan kolaboratif menjadi kunci kesuksesan MPLS di sekolahnya. Sebanyak 432 peserta didik baru mengikuti program lima hari yang mencakup pengenalan visi-misi sekolah, struktur kurikulum SMK, lingkungan sekolah, dan pengembangan bakat minat.

“Salah satu fokus utama kami adalah deteksi dini potensi kekerasan dan pembentukan budaya positif di sekolah,” tambah Harti.

Inovasi terbesar yang diterapkan SMK Negeri 3 Semarang adalah pembentukan jejaring strategis dengan 19 lembaga mitra, termasuk Polsek, Koramil, BNN, Satpol PP, hingga Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

“Kami membangun jejaring untuk memperkuat pencegahan kekerasan, termasuk dari sisi parenting. Bahkan CCTV terpasang di tiap sudut sekolah dan terhubung dengan sistem manajemen pengawasan kami,” jelas Harti.

Kolaborasi multi-instansi ini dirancang untuk membangun sistem perlindungan peserta didik dari berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun digital. Pendekatan komprehensif ini menjadikan SMK Negeri 3 Semarang sebagai model penyelenggaraan MPLS Ramah yang dapat ditiru sekolah lain.

Kunjungan Faisal Syahrul ini merupakan bagian dari upaya pengawasan intensif Kemendikdasmen untuk memastikan MPLS di seluruh Indonesia berjalan sesuai ketentuan dan memberikan pengalaman positif bagi siswa baru.

 

Leave your thought here

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *